Selamat Datang Di Blog KRISANTUS M. KWEN

Jumat, 09 November 2018

PAHLAWAN HERMAN FERNANDEZ 01


           Monumen Herman Fernandez di jantumg kota Larantuka(foto Ebed Derosari)



LARANTUKA DAN NASIONALISME 

Jangan ajar orang Larantuka tentang arti nasionalisme”. Tentu frase ini tidak berlebihan kalau orang meragukan nasionalisme orang Flores Timur.  Letaknya yang strategis di jantung kota Larantuka membuat patung Herman Fernandez menjadi salah satu ikon kota ini. Dibalik monumen patung ini sebetulnya tersembunyi pesan monumental nan heroik arti sebuah pengorbanan!

Semana Santa di kota Larantuka sebagai salah satu destinasi wisata rohani yang tersohor sampai ke manca negara. Kepopuleran destinasi ini seakan menyembunyikan sebuah destinasi ‘lain’ yang nyaris dilupakan. Bukan saya bermaksud mengurangi dan menyaingi Larantuka sebagai kota Reinha, melainkan melihat sudut lain dari arti kehadiran sebuah Patung, gambaran lain dari profil orang Flores – Larantuka yang terlibat memikirkan, menegakkan, dan memberi diri dan berkorban untuk bangsa dan tanah air.

Orang ini bernama Herman Fernandez. Pemuda asal Larantuka yang lahir di kota Pancasila Ende, 3 Juni 1925. Terlahiir dari ayah Markus Suban Fernandez dan ibu Fransisca Theresia Pransa Carvallo. Herman kecil adalah gambaran watak anak-anak Flores yang militan karena didikan intelektual para imam dan Bruder biarawan Societas Verbi Divini (SVD). Bersama pelajar-pelajar di kota Ende seperti Frans Seda, tokoh nasional asal Sikka, Herman Fernandez nekad menyeberang ke pulau Jawa menuntut ilmu di Hollands Inlansche Kweekschcol (HIK) atau Sekolah Guru Bantu di Muntilan Jawa tengah.

Di Muntilan, pelajar Herman satu angkatan dengan Yos Sudarso juga Slamet Riyadi. Keduanya kemudian menjadi Pahlawan Nasional karena kipra nasionalisme mereka. Yang berjuang di kesatuannya masing-masing sampai titik darah terakhir untuk NKRI.

Belum satu tahun di Muntilan pecah perang kemerdekaan. Sekolah mereka ditutup untuk sementara waktu karena Belanda menduduki kota-kota di pulau Jawa, termasuk Muntilan. Herman dan Frans Seda kemudian ke kota Yogyakarta untuk melanjutkan perjalanan hidup mereka, bertahan sambil berharap masa krisis berakhir dan mereka kembali melanjutkan studinya.

Di kota Yogyakarta-lah peristiwa heroik itu bermula. Tentara Pelajar (TP) termasuk elemen-elemen perlawanan rakyat Indonesia. Herman Fernandez tergabung dalam PERPIS (Persatuan Pelajar Indonesia Sulawesi), pimpinan Maulawi Saelan. Di palagan Kebumen, tepatnya di  Front Gombong Selatan, 1-2 September 1947, Herman menunjukkan jiwa patriotiknya dalam pertempuran dua hari bersama Alex Rumambi, karibnya asal Flores dan La Sinrang sahabat perjuangan asal Sulawesi. (Toto Wirjosoemarto, Missing Link Missing in Action Kompasiana ( 2/112009); Yohanes Apriano Dawan Fernandes, Herman Fernandez, Bertempur Hingga Peluruh terakhir, kompasiana (10/02/2012).

Monumen Herman Fernandez tetap kokoh berdiri tegak di jantung kota Larantuka sebagai ‘cahaya’ semburat nasionalisme. Minimal ada e (tiga ) pembelajaran yang dapat dipetik dari semangat patrotik seorang Herman Fernandez. Pertama, Herman adalah gambaran typikal petarung Flores. Dia sendiri melepas anak panah dari busur idealisme Floresnya. Menjadi manusia diaspora adalah model dari perjalanan hidup heroiknya. Yang menyeberang ke tanah Jawa untuk meningkatkan  kapasitas diri.

Kedua, ia ‘melemparkan’ dirinya ke tengah pluralistik idiologi dari beragam manusia Indonesia. Inilah spiritulitas awam yang lahir dari rahim ibu Floresnya yang Katolik. Karena ia membiarkan dirinya dibakar oleh api cinta hidupnya, dibentuk dan dipakai oleh pencipta. Ia seperti anak domba yang digiring ke tempat pembantaiann (Yes 53). Cahanya iman menuntunnya. Karena itu seorang Herman tahu untuk apa ia berkorban.  

Ketiga, Herman menjadi manusia Indonesia. Dia meleburkan dirinya dalam kesatuan aksi tentara pelajar Indonesia. Menjadi bagian dari  Persatuan Pelajar Indonesia Sulawesi merupakan pilihan yang strategis untuk melebur dalam ragam perbedaan etnis dan budaya. Pada titik itu, Herman meninggalkan titik zero, dari sona aman identitas diri menjadi identitas nasionalnya. Meluasnya cakrawala pandangnya menjadikan manusia merdeka bahkan ketika kematian akan menjemputnya. Karena Herman memilih mati daripada mengkianati hati nuraninya. Herman sangat paham untuk apa dia berjuang! Dia seperti manusia Sabda yang memberi dirinyanya untuk sesama, yang diajarkan oleh guru SVD-nya di Schakel School (SMP) di Ndao Ende.

Menjadi manusia Indonesia di zaman now seperti berada di sebuah titian penyeberangan. Kemarin adalah masa lalu yang membentuk hari ini dengan sejarah yang panjang penuh heroik oleh para pendiri bangsa ini. Ketika nasionalisme sedang diuji dan NKRI sedang dipertanyakan oleh kelompok-kelompok intoleran, kita membutuhkan spirit para pahlawan bangsa.

Nasionalisme kebangsaan mewujud dalam Negara Indonesia. Ini adalah kebenaran sejarah kita. Dan seorang Herman Fernandez adalah salah satu manusia Indonesia yang kebetulan lahir di Ende yang berasal dari Larantuka. Di jantung kota Larantuka detak-detak nasionalisme akan mengalirkan darah perjuangan itu. Akan diingat geberasi demi generasi. Karena tidak seorangpun akan bisa membunuh kebenaran. Monumen itu, bukan sekedar patung, melainkan tanda bahwa dibalik ornamen itu, ada api patriotisme dan nasionalisme di jantung kota Larrantuka.

Selamat hari Pahlawan


Menyongsong Fajar Baru,
Larantuka, 10 November 2018.
(www.krisantuskwen.blogspot)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar