Selamat Datang Di Blog KRISANTUS M. KWEN

Jumat, 09 November 2018

PAHLAWAN HERMAN FERNANDEZ 01


           Monumen Herman Fernandez di jantumg kota Larantuka(foto Ebed Derosari)



LARANTUKA DAN NASIONALISME 

“Jangan ajar orang Larantuka tentang arti nasionalisme”. Tentu frase ini tidak berlebihan kalau orang meragukan nasionalisme orang Flores Timur.  Letaknya yang strategis di jantung kota Larantuka membuat patung Herman Fernandez menjadi salah satu ikon kota ini. Dibalik monumen patung ini sebetulnya tersembunyi pesan monumental nan heroik arti sebuah pengorbanan!

Semana Santa di kota Larantuka sebagai salah satu destinasi wisata rohani yang tersohor sampai ke manca negara. Kepopuleran destinasi ini seakan menyembunyikan sebuah destinasi ‘lain’ yang nyaris dilupakan. Bukan saya bermaksud mengurangi dan menyaingi Larantuka sebagai kota Reinha, melainkan melihat sudut lain dari arti kehadiran sebuah Patung, gambaran lain dari profil orang Flores – Larantuka yang terlibat memikirkan, menegakkan, dan memberi diri dan berkorban untuk bangsa dan tanah air.

Orang ini bernama Herman Fernandez. Pemuda asal Larantuka yang lahir di kota Pancasila Ende, 3 Juni 1925. Terlahiir dari ayah Markus Suban Fernandez dan ibu Fransisca Theresia Pransa Carvallo. Herman kecil adalah gambaran watak anak-anak Flores yang militan karena didikan intelektual para imam dan Bruder biarawan Societas Verbi Divini (SVD). Bersama pelajar-pelajar di kota Ende seperti Frans Seda, tokoh nasional asal Sikka, Herman Fernandez nekad menyeberang ke pulau Jawa menuntut ilmu di Hollands Inlansche Kweekschcol (HIK) atau Sekolah Guru Bantu di Muntilan Jawa tengah.

Di Muntilan, pelajar Herman satu angkatan dengan Yos Sudarso juga Slamet Riyadi. Keduanya kemudian menjadi Pahlawan Nasional karena kipra nasionalisme mereka. Yang berjuang di kesatuannya masing-masing sampai titik darah terakhir untuk NKRI.

Belum satu tahun di Muntilan pecah perang kemerdekaan. Sekolah mereka ditutup untuk sementara waktu karena Belanda menduduki kota-kota di pulau Jawa, termasuk Muntilan. Herman dan Frans Seda kemudian ke kota Yogyakarta untuk melanjutkan perjalanan hidup mereka, bertahan sambil berharap masa krisis berakhir dan mereka kembali melanjutkan studinya.

Di kota Yogyakarta-lah peristiwa heroik itu bermula. Tentara Pelajar (TP) termasuk elemen-elemen perlawanan rakyat Indonesia. Herman Fernandez tergabung dalam PERPIS (Persatuan Pelajar Indonesia Sulawesi), pimpinan Maulawi Saelan. Di palagan Kebumen, tepatnya di  Front Gombong Selatan, 1-2 September 1947, Herman menunjukkan jiwa patriotiknya dalam pertempuran dua hari bersama Alex Rumambi, karibnya asal Flores dan La Sinrang sahabat perjuangan asal Sulawesi. (Toto Wirjosoemarto, Missing Link Missing in Action Kompasiana ( 2/112009); Yohanes Apriano Dawan Fernandes, Herman Fernandez, Bertempur Hingga Peluruh terakhir, kompasiana (10/02/2012).

Monumen Herman Fernandez tetap kokoh berdiri tegak di jantung kota Larantuka sebagai ‘cahaya’ semburat nasionalisme. Minimal ada e (tiga ) pembelajaran yang dapat dipetik dari semangat patrotik seorang Herman Fernandez. Pertama, Herman adalah gambaran typikal petarung Flores. Dia sendiri melepas anak panah dari busur idealisme Floresnya. Menjadi manusia diaspora adalah model dari perjalanan hidup heroiknya. Yang menyeberang ke tanah Jawa untuk meningkatkan  kapasitas diri.

Kedua, ia ‘melemparkan’ dirinya ke tengah pluralistik idiologi dari beragam manusia Indonesia. Inilah spiritulitas awam yang lahir dari rahim ibu Floresnya yang Katolik. Karena ia membiarkan dirinya dibakar oleh api cinta hidupnya, dibentuk dan dipakai oleh pencipta. Ia seperti anak domba yang digiring ke tempat pembantaiann (Yes 53). Cahanya iman menuntunnya. Karena itu seorang Herman tahu untuk apa ia berkorban.  

Ketiga, Herman menjadi manusia Indonesia. Dia meleburkan dirinya dalam kesatuan aksi tentara pelajar Indonesia. Menjadi bagian dari  Persatuan Pelajar Indonesia Sulawesi merupakan pilihan yang strategis untuk melebur dalam ragam perbedaan etnis dan budaya. Pada titik itu, Herman meninggalkan titik zero, dari sona aman identitas diri menjadi identitas nasionalnya. Meluasnya cakrawala pandangnya menjadikan manusia merdeka bahkan ketika kematian akan menjemputnya. Karena Herman memilih mati daripada mengkianati hati nuraninya. Herman sangat paham untuk apa dia berjuang! Dia seperti manusia Sabda yang memberi dirinyanya untuk sesama, yang diajarkan oleh guru SVD-nya di Schakel School (SMP) di Ndao Ende.

Menjadi manusia Indonesia di zaman now seperti berada di sebuah titian penyeberangan. Kemarin adalah masa lalu yang membentuk hari ini dengan sejarah yang panjang penuh heroik oleh para pendiri bangsa ini. Ketika nasionalisme sedang diuji dan NKRI sedang dipertanyakan oleh kelompok-kelompok intoleran, kita membutuhkan spirit para pahlawan bangsa.

Nasionalisme kebangsaan mewujud dalam Negara Indonesia. Ini adalah kebenaran sejarah kita. Dan seorang Herman Fernandez adalah salah satu manusia Indonesia yang kebetulan lahir di Ende yang berasal dari Larantuka. Di jantung kota Larantuka detak-detak nasionalisme akan mengalirkan darah perjuangan itu. Akan diingat geberasi demi generasi. Karena tidak seorangpun akan bisa membunuh kebenaran. Monumen itu, bukan sekedar patung, melainkan tanda bahwa dibalik ornamen itu, ada api patriotisme dan nasionalisme di jantung kota Larrantuka.

Selamat hari Pahlawan


Menyongsong Fajar Baru,
Larantuka, 10 November 2018.
(www.krisantuskwen.blogspot)



Kamis, 13 September 2018

Pelantikan Ketua Senat Mahasiswa STP Reinha Larantuka Periode 2018/2019


Gambar 1: Kepercayaan Lembaga:  Diserahkan Ketua Sekolah kepada Ketua Sema yang baru.


Ketua STP Reinha Larantuka, Benedikta Yosefina Kebingin, S.Pd.,Lic. Theol pada Sabtu, 4 Agustus 2018 telah melantik Sdra. Mikael Sani Making menjadi ketua Senat Mahasiswa (Sema) STP Reinha Larantuka periode 2018/2019. Miksan, demikian panggilan sehari-hari Ketua Sema yang baru, menggantikan sdra. Fidelis Ledo. Pelantikan tersebut berlangsung di Aula STP Reinha Larantuka.
 
Gambar 2: Miksan: Ketua Sema periode 2018/2019.

Pergantian kepemimpian organisasi internal kampus ini merupakan agenda rutin tahunan kampus. Harapan kita bersama adalah agenda ini menjadi  momentum yang berarti untuk digunakan demi pengembangan kegiatan kemahasiswaan. Senat mahasiswa tidak hanya menjadi ajang latihan berorganisasi melainkan kesempatan yang sangat berharga untuk melahirkan kader-kader pemimpin masa depan. Karena salah satu tugas organisasi adalah melahirkan kader yang handal. Minimal meningkatkan kapasitas pribadi yang baik sesuai harapan Civitas akademika.



 “Bahwa saya selalu setia dan berbakti, bagi kepentingan Gereja, Lembaga pendidikan ini, khususnya kegiatan kemahasiswaan di Senat STP Reinha Larantuka”. Demikian Penggalan dari sumpah setia yang diucapkan oleh ketua Sema STP Reinha Larantuka.  Hal ini menjadi cerminan visi dan misi dari program kerja Sema mendatang. Dan tentunya menjadi harapan seluruh mahasiswa STP sebagaimana keputusan mahasiswa yang secara demokratik memilih beliau dalam pemilihan Sema STP Reinha Larantuka yang bersifat Langsung, Umum, Bebas, dan rahasia.  
 
 Gambar 3: Fidelis Ledo: Ketua Sema periode 2017/2018.


Pada pesan dalam sambutannya, Ketua Sekolah mengucapkan terima kasih kepada ketua Sema yang lama, “sebagai lembaga kami mengucapkan limpah terima kasih kepada ketua senat dan stafnya yang lama yang telah berusaha semaksimal mungkin melaksanakan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya Apa yang sudah diusahakan secara maksimal kalau bertabrakan dengan hal-hal yg berada di luar rencana dan kemampuan kalian sebagai yang bertanggung jawab atas kegiatan kemahasiswaan ini, maka hal itu  itu tidak perlu dilihat sebagai suatu kegagalan atau kekurangan”
 
Gambar 4: azas pemilihan: angsung Umum Bebas dan Rahasia


Suster Ivonny CIJ, demikian panggilan sehari-hari untuk ketua sekolah, juga menaru harapan kepada ketua sema yang baru, “Pada akhirnya saya mengucapkan profisiat kepada ketua senat yang baru bersama kepengurusannya selamat bertugas. Dan Terima kasih secara khusus pula bagi  Wakil Ketua III yang lalu yang telah pendampingi mahasiswa sebelumnya atas nama Pak Ansel dan Pak Vinsen yang menggantikan beliau dalam tugas mendampingi para mahasiswa khususnya para pengurus dalam roda kepemimpinan mereka selanjutnya”. Profisiat dan Selamat bertugas kepada saudara Miksan dan kawan-kawannya.
Gambar 5: Mahasiswa STP Reinha Larantuka: sangat berantusias mengikuti acara pelantikan ketua Sema yang baru. 

Sabtu, 17 Maret 2018

UMAT STASI YOHANES PEMBABTIS LEWOOKIN DUSUN LIKOTUDEN MENUJU STASI MANDIRI



WEEKEND PASTORAL STP REINHA LARANTUKA DI PAROKI SANTA MARIA DIANGKAT KE SURGA BAMA - LEWOKLUOK 16-18 MARET 2018


foto 1: Gereja Stasi Santo Yohanes Pembabtis Lewookin, dusun Likotuden, desa Kawalelo.

 Letak Dusun Likotuden di desa Kawalelo Kecamatan Demon Pagong berada di lereng perbukitan yang terletak persis di pinggir pantai tanjung Seamdi. Kondisi permukaan tanah liat yang diselingi tanah berbatuan yang berkapur dengan landai cadas membuat sulit tanaman berumur panjang dapat menancapkan akar tunggangnya lebih dalam. Jika curah hujan yang pendek di satu musim tanam, maka dapat menyebabkan gagal panen untuk tanaman jagung atau padi ladang sebagai komoditas andalan petani. 

foto 2: tanaman Sorgum, komoditas pangan andalan dusun Likotuden.

Hal demikian tidak berlaku untuk tanaman ladang jenis Sorgum. Justru di dusun Likotuden ini Sorgum menjadi primadona. Sejak Bapa Uskup Larantuka, Mgr.Frans Kopong Kung Pr mempromosikan Sorgum sebagai tanaman pangan rakyat disamping fungsi lannya, maka tanaman ini mulai diperkenalkan secara luas kepada umat di wilayah keuskupan Larantuka. Yayasan Pengembangan Ekonomi Keuskupan Larantuka (Yaspensel) dibawah kepemimpinan Romo Benyamin Daud Pr telah mengembangkan potensi lahan di desa Kawalelo ini untuk budi daya dan pengembangan ekonomi umat. 

foto 3:Potensi wisata pantai Likotuden.
foto 3: Aksi membangun gereja stasi sebagai cetusan aksi APP melalui Katekese Orang Dewasa umat di KBG-KBG. Visi Gereja & Visi Pemerintahan desa sejalan membangun umat juga anggota masyarakat.


Dinamika umat stasi terasa menggeliat mengikuti irama ekonomi desa yang dipelopori oleh Yaspensel Keuskupan Larantuka. Ketika Sekolah Tinggi Pastoral (STP) Reinha Larantuka melaksanakan Weekend selama 3 hari (16-18/3/2018) di Paroki Santa Maria Diangkat ke Surga Bama-Lewokluok tiba si Dusun Likotuden, Stasi Lewookin, menyaksikan kemandirian ekonomi umat. Itu benar-benar dilaksanakn secara konsisten oleh Yaspensel Keuskupan Larantuka.Adapun 98 mahasiswa dan 8 pendamping dosen/pegawai disebarkan di 9 stasi untuk melakukan pendataan umat Paroki untuk mem-back up data keluarga, data umat perantau dan data umat yang hidup berkeluarga tanpa ikatan perkawinan.

foto 4: Ketua Stasi Lewookin, Paulus Watokola.




foto 5: SMK Internasionak AMKOP Likotuden. POTENSI mengangkat harkat martabat anak bangsa & Gereja

foto 6: Edi Watokola, tokoh pemuda, umat KBG 2, Maria Bintang Kejora "Aksi APP disatukan dengan bulan bakti desa"


Lembaga ini tidak hanya mempersiapkan umat untuk budi daya dan pengembangan tanaman pangan Sorgum, melainkan juga menata kemandirian umat melalui usaha bersama Simpan Pinjam Likotuden. Menurut Ketua Dewan Stasi Lewookin Paulus Watokola, pemberdayaan umat melalui UBSP “Sorgun Likotuden dalam tahun buku 2 RAT 2017, dana melebihi Rp.150 juta yang kini beredar di tengah umat. Keadaan ini tak terasa ikut membantu kemandirian umat untuk menata keluarganya.
Irama dari komitmen umat dalam menyongsong Aksi Puasa Pembangunan Keuskupan Larantuka ditampakkan melalui karya-karya umat. Yang dihayati oleh umat dalam tema “Membangun Kesetiakawana Sejati”.


foto 7: Malam rama tama bersama mahasiswa STP Reinha Larantuka.



Cetusan komitmen aksi dilaksanakan secara kompak oleh umat yang dipadukan dengan bulan bakti desa. Demikian yang dirasakan dan dilakukan oleh perangkat stasi dan perangkat desa menurut toko pemuda, Edi Watokola. Umat mencetuskan aksi bersama dengan membangun teras sebagai pematang di depan Gereja stasi untuk mencegah erosi tanah. Aparat desa mendukung gerakan ini dengan menyediakan 40 sak semen untuk membangun fondasi teras Gereja untuk menghindari gerusan tanah akibat banjir pada musim hujan.

foto 6: "ada saatnya kita membutuhkan rekreasi setelah sibuk bekerja"

Satu hal yang kini menjadi potensi sekaligus peluang stasi Lewookin atau dusun Likotuden, desa Kawalelo adalah pengembangan tanaman Sorgum sebagai komuditas andalan yang mendatangkan kemandirian pangan dan keuntungan finansial bagi umat. Disinilah komoditas ini bukan hanya sekedar andalan umat tetapi justru oleh Romo Benyamin disebut sebagai emasnya di darat setelah mutiara di laut.


 foto 7: Wajah masa depan umat stasi Lewookin, di halaman PAUD "Sorgum Likotuden"


Tak terkecuali Bapak bupati Flores Timur, Antonius Gege Hadjon menyebut Likotuden sebagai kampung sorgum, demikian menurut Romo Benya Pr ketika menutupi kegiatan pelatihan “Pasca Panen Sorgum” yang dihadiri oleh utusan dari beberapa kabupaten di NTT (17/3/2018) di Dusun Likotuden. Hal demikian seiring dengan semboyan, desa membangun desa menata.





Sabtu, 02 September 2017

GERAK PMKRI DI KAMPUS DAN MASYARAKAT

(PMKRI sebagai Organisasi Kepemudaan: Tantangan serentak peluang)
disampaikan pada MPAB PMKRI FLOTIM, 2 September 2017



(Krisantus M. Kwen)


1.      PENDAHULUAN
PMKRI sebagai ormas kepemudaan lahir pada masanya untuk mengambil bagian dalam perjuangan bangsa. Organisasi PMKRI turut membentuk wajah kepribadian kaum muda, khususnya yang berada di bangku kuliah. Sejak didirikan pada tahun 1947 di Jogjakarta, PMKRI bersama-sama ormas kemahasiswaan lainnya berkipra di kanca pergaulan nasional. PMKRI tercatat dengan tinta emas ikut mengantar peralihan orde Lama menuju Orde Baru. 


Elit-elit Negara ketika itu memperhitungkan PMKRI, HMI, GMNI, KAMI, dan KAPPI sebagai ujung tombak pendukung nasionalisme kontra komunisme. Bahu membahu gerakan mahasiswa “angkatan 66” bersama ABRI, ketika itu terlibat menyelamatkan bangsa dari bahasa laten PKI. Tritura sebagai maskot perjuangan para Mahasiswa kala itu berhasil membubarkan PKI, merombak kabinet dan menunkan harga barang. Pasca perjuangan tersebut, PMKRI bersama elit Mahasiswa lainnya di seluruh pelosok tanah Indonesia memperlihatkan sikap kritis terhadap proses-proses pembangunan yang tidak mencerminkan kedaulatan dan kesejahteraan rakyat dan Negara.


Rumah perjuangan mahasiswa adalah kampus. Di kampuslah ruang-ruang kreatif-kritis disusun sebagai landasan bergerak. Basis intelektual dan kerangka berpikir sistimatis adalah modal membuat analisis sosial politik. Dari sanalah lahir konsep-konsep dan persepsi perjuangan tersebut. Pertanyaan kritis kita adalah apakah dinamika sosial politik kini menjadi basis-basis refleksi mahasiswa? Ataukah Mahasiswa Katolik kini telah mengambil jarak dengan dinamika politik, yang melahirkan kebijakan yang tidak pro rakyat? Atau sebaliknya adakah kran-kran kreatif itu telah ditutup demi kenyamanan prosesi akademik?


Refleksi kita adalah PMKRI sebagai Organisasi Kepemudaan: Tantangan serentak peluang. Panitia telah menyodorkan saya tema: Gerak PMKRI di Kampus dan Masyarakat. Hemat saya, pilihan ini sangat strategis karena justru dalam MPAB di Larantuka tahun 2017 ini peserta mau ditempatkan di titian antara kampus dan masyarakat. 


Pada momentum ini, peserta MPAB hendak merefleksikan dirinya untuk berani keluar dari kemapanan seraya belajat dari momentum awal gerak perjuangan Mahasiswa Indonesia, yakni dekat dengan denyut nadi pergumulan masyarakat dan dekat dengan proses pembuatan kebijakan tanpa merugikan masyarakat. Atau setidaknya Mahasiswa kita ikut bergembira dan memiliki harapan serta turut berduka dan cemas bersama orang-orang zaman sekarang.[1]

2.      PMKRI ADALAH GEREJA ZAMAN SEKARANG


Tidak berlebihan kalau saya katakan PMKRI adalah sebuah komunitas hidup menggereja secara baru. Cita-cita hidup Gereja Katolik adalah membentuk sebuah paguyuban, di mana di sana para pengikut Yesus saling berdoa, mengucap syukur, saling membagi kehidupan dan tolong menolong serta membuka diri untuk berbagi kehidupan bersama mereka yang menderita ketidakadilan. Menurut Calleb Rosado (1988)[2], tantangan Gereja masa depan adalah memahami corak dan tantangan bagi misi Gereja. 


Gereja menurutnya akan ditinggalkan manusia masa depan jika Gereja tidak lagi mengikuti corak perubahan manusia zamannya. Jika kita keliru memahami zaman, maka kita akan keliru memahami misi Gereja. Karena misi Gereja adalah mengkomunikasikan injil secara efektif kepada masyarakat. Jika misi menjadi efektif maka dibutuhkan dua macam usaha belajar yakni, pertama: pemahaman yang sungguh-sunggu tentang Injil. Dan kedua, pemahaman yang jelas tentang orang-orang yang menjadi sasaran pewartaan injil, yaitu masyarakat. Untuk mendekati irama dan gerakan dua model itu dibutuhkan tiga sikap hidup.



Tahap-tahap perubahan zaman menurut Calleb
Masyarakat                Agraris --------- Industri -------Informasi
Bentuk                        : Suku                    Kota             IPTEK
Pandangan                  : Keluarga             bangsa           Dunia
Hidup
Orientasi                      :  Lampau              sekarang        masa depan
Fokus                          : keselarasan         keragaman    kemacamragaman
Kelompok
Kepemimpinan            :  karismatis      status             hukum/rasional
Pilihan                         :  satu                    beberapa       berlipat
Gaya hidup                 :    upacara              pembaharuan   perombakan
Pandangan                  : Mitis                       ontologis         Fungsional
Tentang Allah      


Sikap pertama, membuka diri terhadap kebenaran Injil. Manusia Kristen adalah yang memiliki kedekatan yang orisinil terhadap Sabda Tuhan. Membuka diri terhadap Firman mengandaikan dia harus berani belajar pada Yesus sebagai Tuhan dan gurunya. Keakraban rohani ini hendak diciptakan dalam organisasi ini. membiarkan diri dibimbing oleh Roh akan melahirkan sikap peduli otentik tanpa motif lain selain berjuang dan bergerak untuk misi Gereja (ecclesia).


Sikap kedua, berani keluar dari sona aman refleksi diri dan mendekati manusia zaman sekarang sebagai subjek dan objek misi (patria). Pendekatan yang dibutuhkan pada fase ini adalah kemampuan untuk memiliki sikap empati, kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan oleh sesama.  


Untuk maksud tersebut menurut Dr. Nobert Betan (2008) manusia Kristen hendaknya memiliki 4 ciri khas yang mendalam dan otentik,. Ciri pertama adalah animaif, yakni seorang pelayan kebenaran harus mampu membawa kesadaran kepada orang yang dilayani tentang adanya ketidak adilan dan ketidakdamaian yang sedang terjadi zaman ini. mereka harus sanggup merangkul banyak orang untuk berpartisipasi dalam pelayanan. Orang yang diajak harus tergerak hatinya. 


Ciri kedua, pastoral, menggembalakan korban ketidakadilan yang beragama Katolik. Kegiatan ini terjalin karena didorong oleh semangat Sang gembala Yesus. Dia tergerak melihat ketidakadilan dan ketidakdamaian dan berani untuk menyerahkan dirinya. Menggembalakan berarti melindungi, menjaga, merawat, dan mempersatukan mereka agar agar imannya diteguhkan. Ciri 


ketiga adalah misioner. Ciri ini menempatkan pejuang keadilan untuk mewartakan nilai-nilai keadilan dan perdamaian kepada saudara-saudara non Katolik, tanpa memandang suku, rasa tau golongan. Maksud kegiatan ini adalah memulihkan dan mengangkat martabat mereka yang direndahkan, menciptakan jalinan rellasi yang benar dengan Tuhan, sesama, diri, dan alam ciptaan, meningkatkan menghargaan  dari mereka yang disingkirkan karena miskin dan tidak berdaya. 


Ciri keempat adalah profetik. Menempatkan pejuang keadian dalam ruang gerak menggereja baru untuk bersikap-denuntiare dan annuntiare. Denuntiare berarti berani membongkar kejahatan dan melawan/protes terhadap ketidakadilan yang sedang melanda, yang dilakukan mereka yang sedang memiliki kekuatan dan kekuasaan. Untuk menunjang niat dan gerakan ini dibutuhkan data yang akurat serta mempertimbangkan banyak hal termasuk dampak perjuangan dengan meminimalisasi korban dari kaum kecil dan lemah. 


Kemudian sikap annuntiare.  Sikap annuntiare merupakan keberanian untuk mengungkapkan kebenaran di muka umum, baik lisan atau tertulis. Seorang pegiat dan pejuang kemanusiaan yang otentik hendaknya berani mengenakan  sifat kenabian ini. oleh karena itu seorang harus berani mengungkapkan kebenaran tentang adanya ketidakadilan dan membongkar kejahatan serta mengutuk ketidakdilan.

3.      PENUTUP

Akhirnya seperti harapan Calleb Rosado, PMKRI hendak ditetapkan pada posisi mana? Mengambil jarak pada corak dan perjuangan masyarakat berarti membiarkan Gereja dan kita akan ditinggalkan oleh masyarakat. Karena masyarakat memilik orientasi tersendiri. Oleh karena karena itu Gereja tidak hendak mengambil jaral dan turut membangun menara gading, melainkan berpartisipasi membangun titian-jembatan agar paguyuban kristiani kita (baca: PMKRI) dapat mendekati masyarakat sehingga kita pantas bergembira dan berharap, duka dan cemas dengan manusia zaman ini.


Menjadi mahasiswa yang kristiani berarti berani menjadikan kampus sebagai basis intelekktual. Menjadi PMKRI yang berbasis kristiani berarti membunca sikap peduli yang menggerakkan seorang aktifis kepemudaan untuk melihat Kristus ada dalam para korban ketidak adilan ketidakdamaian.



[1] Gaudium et Spes art. 1, Konstitusi Pastoral tentang Gereja di dunia dewasa ini.
[2] Caleb Rosado, corak masyarakat dan tantangan bagi misi Gereja (P3J-KAS, 1993)